This is consent : how to talk and think about consent

 

CONSENT

This is consent : how to talk and think about consent

Kita mungkin sering mendengar kata consent yang artinya "persetujuan". Dalam banyak hal, persetujuan memang menjadi dasar sebelum kita mengambil keputusan. Namun, dalam konteks seksual, consent punya arti yang jauh lebih dalam dan krusial. Sayangnya, pemahaman masyarakat kita mengenai hal ini masih minim, yang ironisnya malah menyuburkan pelecehan dan kekerasan seksual, atau yang sering kita dengar sebagai rape culture (budaya pemerkosaan). Indonesia sendiri masih berjuang keras untuk menangani masalah ini.

​Secara teknis, consent sering diringkas menjadi "yes means yes". Tiara Puspita, M.Psi., seorang psikolog klinis, menekankan bahwa consent adalah persetujuan yang diberikan secara sadar, sukarela, tanpa paksaan, dan tanpa ancaman sama sekali.

​Sejalan dengan itu, penulis Rachel Kramer Bussel dalam bukunya Yes Means Yes! Visions of Female Sexual Power & A World Without Rape menjelaskan bahwa consent bukanlah kejadian sekali jadi, melainkan proses komunikasi yang berkelanjutan. Karena aktivitas seksual itu luas, sangat penting bagi kedua belah pihak untuk terus berkomunikasi, menyamakan persepsi, dan jujur mengenai apa yang ingin atau tidak ingin dilakukan, termasuk soal penggunaan kontrasepsi.

​Agar lebih mudah dipahami, kamu bisa melihat prinsip consent melalui poin-poin berikut:

  • ​Diberikan Secara Sukarela (Given Freely): Harus murni atas keinginan sendiri. Diam atau tidak menolak bukan berarti setuju. Orang yang sedang tidak sadar, di bawah pengaruh alkohol/obat, atau berada dalam ancaman tidak bisa memberikan persetujuan yang sah. Begitu juga bagi mereka yang belum cukup umur atau tidak memiliki kapasitas mental untuk memutuskan.
  • ​Jelas dan Jujur (Informed): Persetujuan harus didasari oleh kejujuran. Memanipulasi atau berbohong (misalnya menyembunyikan niat untuk tidak menggunakan kondom) berarti tidak ada consent.
  • ​Spesifik (Specific): Setuju untuk berciuman bukan berarti setuju untuk melakukan hal lain yang lebih jauh. Kalau merasa ragu, lebih baik berhenti dan bertanya. Jika masih ragu, sebaiknya berhenti sepenuhnya.
  • ​Bisa Dibatalkan (Reversible): Setuju sekali bukan berarti setuju selamanya. Seseorang berhak untuk berhenti atau membatalkan persetujuannya kapan saja, bahkan di tengah-tengah aktivitas seksual yang sedang berjalan.
  • ​Antusias (Enthusiastic): Fokusnya bukan pada apakah seseorang bilang "tidak", tapi apakah mereka benar-benar menunjukkan keinginan untuk bilang "ya" melalui tindakan verbal maupun non-verbal yang jelas.

​Singkatnya, consent itu bukan tentang menandatangani kontrak, melainkan tentang komunikasi yang jujur dan memastikan kenyamanan bersama.

​Bayangkan saja seperti hal sederhana dalam hidup: apakah kamu akan memakan makanan milik orang lain tanpa meminta izin terlebih dahulu? Begitu pula dalam hubungan seksual, izin dan kesepakatan bersama adalah kunci mutlak yang harus dihargai.


By pinterest


Roses are red. Violets are blue.

I love the way we embody consent

And respect each other’s boundaries too

#CONSENTCULTUREMATTERS

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perempuan dalam Society 5.0

Red Queen Series by Victoria Aveyard ( Resensi)

Perempuan dan Paradoks Masyarakat Awam