Perempuan dan Paradoks Masyarakat Awam
Halo, teman-teman!
Hingga kini, masih banyak orang yang belum memahami, atau bahkan memilih untuk tidak memahami, topik-topik yang dianggap tabu seperti ini. Mari kita bahas bersama sisi-sisi tersembunyi pada perempuan yang kerap disalahartikan, sehingga memunculkan paradoks di tengah masyarakat yang masih minim pengetahuan.
Sisi pribadi perempuan mencakup hal-hal yang hanya diketahui dirinya sendiri, salah satunya adalah keperawanan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “perawan” diartikan sebagai perempuan yang belum pernah melakukan hubungan seksual, sedangkan “keperawanan” merujuk pada kondisi kemurnian.
Banyak orang masih percaya bahwa selaput dara yang tidak utuh menandakan seorang perempuan sudah tidak perawan atau pernah berhubungan seksual. Keyakinan ini mendorong munculnya praktik seperti tes keperawanan, bahkan ada perempuan yang memilih melakukan operasi pemulihan hymen demi terlihat “utuh”.
Padahal, menilai keperawanan hanya dari kondisi selaput dara merupakan konstruksi sosial yang tidak adil. Aktivitas seksual tidak sekadar soal penetrasi, dan banyak kegiatan non-seksual pun dapat menyebabkan robeknya hymen.
Secara medis, selaput dara atau hymen adalah jaringan tipis sisa perkembangan vagina yang menutupi sebagian pintu masuk vagina. Robeknya hymen bisa terjadi akibat berbagai hal, seperti:
-
Memasukkan jari (masturbasi)
-
Olahraga berkuda
-
Kecelakaan
-
Pemerkosaan
-
Benturan atau tendangan kuat
-
Hubungan seksual
Kerusakan hymen terjadi karena trauma fisik pada area intim. Selain itu, bentuk hymen sendiri bervariasi — ada sekitar delapan tipe selaput dara dengan jumlah pembuluh darah yang berbeda-beda. Perbedaan inilah yang menentukan apakah seseorang akan mengalami perdarahan saat pertama kali melakukan hubungan seksual.
Karena itu, banyak peneliti bidang sosial dan humaniora menilai bahwa konsep keperawanan merupakan hasil budaya patriarki, yang menjadikan kesucian dan nilai perempuan bergantung pada kondisi selaput daranya.
Padahal, makna “perawan” tidak seragam. Di sebagian masyarakat, hymen yang utuh dijadikan tolok ukur, sehingga perempuan yang tidak mengalami perdarahan saat pertama kali berhubungan dianggap tidak lagi suci. Ini adalah kekeliruan yang masih sering ditemui. Faktanya, hymen bisa robek karena berbagai aktivitas non-seksual, bahkan ada perempuan yang lahir tanpa selaput dara.
Jadi, apakah layak menjadikan hymen sebagai penanda keperawanan? Tentu tidak. Jika mengesampingkan budaya dan adat, jelas bahwa keperawanan tidak dapat diukur hanya dari kondisi fisik selaput dara. Apalagi jika hymen dapat berbeda-beda bentuknya, tidak selalu ada sejak lahir, atau dapat robek karena hal-hal di luar aktivitas seksual.
Selain itu, robeknya selaput dara tidak selalu disadari oleh pemiliknya. Tidak semua robekan menimbulkan rasa sakit atau menyebabkan perdarahan. Bila terjadi saat menstruasi atau aktivitas fisik yang berat, darahnya bahkan bisa bercampur dengan darah haid dan tidak terlihat.
Dari seluruh penjelasan ini, dapat ditegaskan bahwa selaput dara bukan indikator keperawanan. Keperawanan lebih tepat dipahami sebagai pengalaman individu yang berkaitan dengan hubungan seksual berpenetrasi, bukan semata kondisi fisik.
“sebab kamu adalah manusia, kamu berharga"
mantep bgt gin
BalasHapusCakeppp
BalasHapustimaaci infonya :) bermanfaat sistah
BalasHapusUwww
BalasHapusTulisannya bagus
BalasHapusLanjutkan perempuan hebat 👍✔️
Sangat mengedukasi
BalasHapusBagus penulisannya
BalasHapus